
Bangun Toleransi, UKDW Ambil Bagian dalam Penyelenggaraan Dialog Antaragama

Studi oleh PPIM UIN Jakarta pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 30,16% dari 8, 96 juta mahasiswa di Indonesia, tidak toleran. Inisiatif dialog antariman sendiri telah dimulai oleh akademisi sejak tahun 1970-an. Sedangkan aktivisme sebagai gerakan dimulai tahun 1990an di Yogyakarta. Keberadaan gerakan lintas iman merupakan peringatan dini bahwa konflik berbasis identitas agama adalah ancaman serius terhadap keragaman Indonesia sehingga perlu diintervensi sejak dini melalui perjumpaan dalam ruang-ruang dialog, serta kebijakan dan tindakan negara yang memastikan perawatan keragaman Indonesia.
Upaya membangun perjumpaan langsung antarmahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang agama dan suku menjadi hal yang krusial di tengah realitas banyaknya kasus intoleransi, pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta ancaman radikalisme di kalangan anak muda di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.
Oleh karena itu, melalui inisiatif KAICIID Fellows, 7 perguruan tinggi berbasis agama yakni GEDSI UNU Yogyakarta, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Universitas Sanata Dharma (USD), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Jawa Dwipa, dan Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra berkolaborasi menyelenggarakan workshop dan pelatihan dengan tema “Dialog Antaragama untuk Perdamaian bagi Mahasiswa Lintas Iman” yang diikuti oleh 35 mahasiswa perwakilan dari 7 perguruan tinggi tersebut.
Kegiatan diawali dengan seminar sehari “Integrasi Perspektif dan Praktik Kesetaraan Gender, Disabilitas, Inklusi Sosial (GEDSI) dalam Dialog Antaragama” sebagai orientasi materi pelatihan yang dilaksanakan di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan dibuka oleh Direktur Pascasarjana UIN sekaligus penandatanganan simbolis nota kerja sama 7 kampus.
Workshop dan pelatihan tahap 1 dilaksanakan di UNU Yogyakarta pada tanggal 10-11 Mei 2025 dengan menghadirkan fasilitator diantaranya Endah Setyowati (UKDW), Wiwin Siti Aminah Rohmawati (Center for GEDSI UNU), Ahmad Fauzi (Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga), dan Gede Agus Siswadi (Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Jawa Dwipa).
Kegiatan ini juga melibatkan dua narasumber yang hadir bergantian pada hari pertama dan kedua yakni Nina Mariani Noor (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga) dan Wahju Satria Wibowo (Dosen Fakultas Teologi UKDW). Sementara itu, para mahasiswa yang mewakili UKDW adalah Theresia MM Manalu (Filsafat Keilahian), Ahmad Mawaidi Kasim (Manajemen), Yosafat Febby Aleno Yahya (Pendidikan Bahasa Inggris), Rizki Nurjanah (Studi Humanitas), dan Natasha Wahyuningsih (Studi Humanitas)
Selama dua hari, peserta dari tujuh perguruan tinggi berbasis agama berproses melalui pelatihan dan workshop yang mempertemukan gagasan maupun pengalaman dalam pertemuan lintas agama. Peserta juga belajar untuk memulai dialog tentang hal-hal yang sensitif karena menyangkut ajaran agama dan praktik keseharian dalam keragaman. Oleh karena itu, rencana tindak lanjut dari setiap peserta adalah memulai dialog lintas agama dengan berbagai cara menjadi luaran dari workshop dan pelatihan tahap pertama.
Pada workshop dan pelatihan tahap 2 yang dilaksanakan di UKDW pada tanggal 14-15 Juni 2025, peserta akan bertemu kembali untuk melengkapi pengalaman tahap pertama menuju peran dialog antaragama dalam gender equality, disability, and social inclusion (GEDSI).
Theresia Manalu, salah satu peserta dari Prodi Filsafat Keilahian UKDW menyebutkan dirinya menyadari keberbedaan bukan tembok pemisah, melainkan jembatan yang bisa memperkaya cara kita memandang dunia. “Selama tiga hari, kami dari latar belakang agama, budaya, dan institusi yang berbeda bertemu dalam ruang yang sama. Dan dari perjumpaan itulah tumbuh benih toleransi yang hangat dan tulus,” ungkapnya.
Theresia menambahkan, pelatihan tersebut menantang mereka untuk bekerjasama dengan orang-orang yang sebelumnya belum saling kenal. Karena latar belakang berbeda, dengan cara berpikir yang mungkin tak sama, kemudian muncul rasa tidak aman. “Ada perasaan, apa aku akan diterima? Apakah mereka akan mengerti maksudku? Namun justru dari ketidakamanan itulah, kami mulai membuka diri. Kami belajar bahwa rasa tidak aman bukanlah hal yang harus ditolak atau disembunyikan. Hal itu bukan penghalang, tetapi jendela yang mengajarkan tentang kepercayaan, keberanian, dan keinginan untuk saling memahami,” terangnya.
Theresia mengaku jika toleransi saja tidak cukup. Dunia saat ini terlalu kompleks untuk hanya mengandalkan sikap saling membiarkan. Sehingga hal yang lebih dibutuhkan adalah dialog, ruang percakapan yang jujur, terbuka, dan saling menghargai. “Dalam kegiatan ini, dialog bukan teori. Ia hadir dalam tawa, dalam keheningan, dalam pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, dan dalam pelukan perpisahan. Di sinilah kami merasakan bahwa keberagaman bukan sekadar data demografis, tapi pengalaman yang hidup,” katanya.
Theresia pulang dengan membawa cerita tentang indahnya perbedaan, tentang dialog yang menguatkan. Pelatihan ini menyadarkannya bahwa ketidakamanan bukan akhir, tapi awal dari pemahaman yang lebih dalam. “Kami pulang dengan kesadaran bahwa selalu ada pintu terbuka untuk menjalin relasi yang lebih tulus dalam keragaman, dan disanalah kami akhirnya benar-benar mengerti, bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar jargon. Ia bisa menjadi kenyataan kalau kita mau berjalan bersama, mau duduk dan berdialog, mau percaya bahwa keberagaman itu bukan masalah, melainkan warna-warni yang memperindah hidup bersama,” pungkasnya. [ES&TM]



