
SETIA#2: Soroti Budaya Konsumerisme dan Peran Gereja

Program Magister Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali mengadakan Seminar Teologi dan Isu-Isu Aktual (SETIA) pada hari Selasa, 13 Mei 2025 di Lecture Hall Pdt. Dr. Rudi Budiman. Kali ini SETIA mengangkat tema “Budaya Konsumerisme dan Peran Gereja dalam Pemaknaan Kesejahteraan” serta menghadirkan Pdt. Wahju Satrio Wibowo, M.Hum, Ph.D., Edy Nugroho Widihantoro, M.Sc., dan Rosallina Christanti, SE., MAcc. sebagai narasumber. Ketiga narasumber tersebut memaparkan hasil penelitian mereka yang dilakukan di GKJ Madukismo, GKJ Sedayu dan GKJ Pakem.
Pdt. Wahju membuka seminar dengan perumpaan orang kaya yang dimuat dalam Lukas 16:19-31, dan menjadi inspirasi penelitian mereka. Pdt. Wahju menyoroti cara anggota gereja memaknai kepuasan hidup dan kesejahteraan, yang diperhadapkan dengan nilai-nilai gereja di tengah kehidupan sehari-hari. Secara khusus, Pdt. Wahju menyoroti konsumerisme, yang mempengaruhi kehidupan jemaat dalam bergereja.
Pdt. Wahju juga menjelaskan mengenai pemaknaan berkat. Dalam perjanjian lama, berkat bukan hanya mengenai materi tetapi juga tentang relasi dengan Tuhan. Hal ini berkaitan dengan ketenangan, dan komunitas yang dilihat sebagai bagian dari berkat. Demikian juga di perjanjian baru, berkat dikaitkan dengan nilai keselamatan, dimana ada penebusan Tuhan Yesus. “Berkat sejati tidak selalu tampak dalam hal-hal lahiriah, tetapi juga dalam situasi-situasi tertentu yang kita alami, seperti damai sejahtera, relasi dengan orang lain, termasuk dengan pencipta,” terangnya.
Menurut hasil survey, dari berbagai indikator kesejahteraan, ternyata yang paling dominan berkaitan dengan keturunan dan pasangan, setelah itu penghasilan. Tetapi ada 3 yang less-dominan, bukan yang kurang dominan, tetapi yang tidak terlalu dipikirkan. Rasa aman atau merasa secure dengan dirinya sendiri, spiritualitas, dan masa depan.
Perlu dilakukan pemaknaan terus-menerus mengenai konsep berkat-kesejahteraan sebagai upaya memberikan keseimbangan terhadap konsumerisme. Selanjutnya fokus pada peningkatan kualitas manusia, tidak hanya kualitas pendeta dan pemimpin gereja. Kemudian mengupayakan program, khususnya pendidikan secara sistematis dan terencana, bukan sekedar karitatif yang mengedepankan belas kasihan saja. Serta berinvestasi pada manusia (jemaat), bukan aset fisik, atau citra gereja. [yunike]



