
UKDW Hadiri Konferensi Internasional 20 Tahun ICRS, Perkuat Komitmen untuk Perdamaian, Keadilan, dan Keberlanjutan
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) turut berpartisipasi dalam rangkaian 20th Anniversary Workshop, Conference, and Partnership Consolidation yang diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) pada 22–25 Juni 2026 di Yogyakarta. Mengusung tema “Peace, Justice, and Sustainability”, konferensi internasional ini menjadi momentum refleksi atas dua dekade perjalanan ICRS sekaligus memperkuat kolaborasi lintas disiplin, lintas agama, dan lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan global.
Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menghadiri Opening Ceremony yang berlangsung pada 23 Juni 2026 di University Club Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara tersebut dihadiri oleh akademisi, peneliti, tokoh agama, praktisi, alumni, serta mitra ICRS dari berbagai negara.
Dalam sambutannya, Rektor UKDW menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan konferensi sekaligus mengucapkan selamat atas peringatan 20 tahun ICRS. Menurutnya, perjalanan dua dekade ICRS merupakan tonggak penting yang menandai lahirnya semangat baru dalam memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi.
Ia menyampaikan bahwa selama 20 tahun terakhir, kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada (UGM), UKDW, dan UIN Sunan Kalijaga telah menjadi model kerja sama yang unik dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dialog antaragama, serta keterlibatan akademisi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, kolaborasi tersebut terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan studi agama yang bersifat interdisipliner.
Dr.-Ing. Wiyatiningsih menyampaikan rasa syukur karena UKDW dapat terus menjadi bagian dari perjalanan ICRS. Ia menegaskan bahwa peringatan 20 tahun ini bukan hanya menjadi ajang merayakan usia konsorsium, tetapi juga berbagai capaian penting yang telah diraih, termasuk meningkatnya pengakuan internasional terhadap ICRS, pengembangan program doktor baru, serta diresmikannya kantor baru yang diharapkan menjadi semangat baru untuk memperkuat kolaborasi akademik di masa mendatang.
Pada kesempatan yang sama, sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang dibacakan oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Faishol Muslim, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa perjalanan 20 tahun ICRS bukan sekadar penanda usia sebuah lembaga, melainkan bukti konsistensi dalam membangun dialog, mengembangkan pengetahuan, serta menumbuhkan kepercayaan di tengah keberagaman.
“Tema Peace, Justice, and Sustainability mengingatkan kita bahwa ketiga nilai tersebut tidak dapat dipisahkan. Keberagaman bukanlah alasan untuk menjaga jarak, melainkan kesempatan untuk saling belajar, memperluas wawasan, dan memperkuat kemanusiaan,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Lebih lanjut disampaikan bahwa di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus rentan terhadap polarisasi, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai hasil penelitian atau publikasi ilmiah, tetapi harus menjadi cahaya yang menerangi ruang publik, memperkuat kebijakan yang berpihak pada martabat manusia, serta menghadirkan solusi bagi pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Konferensi ini menjadi bagian dari peringatan 20 tahun ICRS sebagai konsorsium yang selama ini berperan penting dalam mengembangkan studi agama secara interdisipliner di Indonesia maupun tingkat internasional. Selama dua dekade, ICRS mempertemukan akademisi, pemimpin agama, organisasi masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan untuk menghasilkan penelitian yang berdampak bagi masyarakat.
Memasuki dekade ketiga, ICRS menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan studi agama yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan yang inklusif, perdamaian, keadilan sosial, serta keberlanjutan lingkungan.
Sejak melakukan transformasi organisasi, ICRS menjadi payung kolaborasi bagi tiga program doktor, yaitu Program Doktor Inter-Religious Studies UGM, Program Doktor Teologi UKDW, serta Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga. Ketiga program tersebut mengembangkan kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara kolaboratif sebagai bentuk penguatan studi lintas agama di Indonesia.
Selama empat hari pelaksanaan, konferensi menghadirkan berbagai workshop, diskusi panel, presentasi hasil penelitian, hingga konsolidasi kemitraan yang membahas isu-isu strategis, seperti politik polarisasi berbasis agama, hak asasi manusia, literasi keagamaan, demokrasi, keadilan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Partisipasi UKDW dalam konferensi internasional ini mencerminkan komitmen universitas untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi di bawah naungan ICRS, UKDW terus mendukung lahirnya dialog yang inklusif, penelitian yang berdampak, serta kerja sama lintas disiplin yang berorientasi pada terwujudnya perdamaian, keadilan sosial, dan masa depan yang berkelanjutan, baik di Indonesia maupun di tingkat global. [mpk]





