
Membangun Jembatan Empati di Kampus: UKDW Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat
Di tengah dunia yang masih sering berbicara tanpa benar-benar mendengar, sekelompok dosen, staf, mahasiswa, dan sahabat Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) belajar untuk “mendengar” dengan mata mereka. Melalui gerakan tangan dan ekspresi wajah, mereka diajak memahami bahasa isyarat — bahasa yang menjadi jembatan utama komunitas Tuli dengan dunia luar.
Langkah kecil namun bermakna itu digagas oleh UKDW melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan Pusat Studi Disabilitas dan Desain Inklusif (PSDDI), bekerja sama dengan Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode (LPPS) GKJ dan GKI Jawa Tengah. Pelatihan Bahasa Isyarat Yogyakarta yang digelar di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono pada Sabtu (4/10) ini menjadi ruang belajar untuk memperkenalkan bahasa isyarat sebagai bagian dari identitas budaya Tuli serta mendorong terciptanya lingkungan komunikasi yang inklusif di kampus dan masyarakat.
Ketua ULD UKDW, Stefani Natalia Sabatini, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat layanan dan kesadaran inklusif di kampus maupun lingkungan gereja. “Kegiatan ini merupakan rangkaian Advokasi Layanan Disabilitas. Sebelumnya telah dilaksanakan seminar layanan disabilitas, dan kini dilanjutkan dengan workshop bahasa isyarat dalam dua sesi. Rangkaian ini bertujuan membangun gereja dan kampus yang semakin inklusif,” ujar Stefani.
Pelatihan menghadirkan Lia Nur Rochma, S.Sos, seorang wanita disabilitas Tuli yang aktif sebagai konsultan dan pendamping kasus yang berfokus pada isu-isu komunitas komunitas Tuli serta tutor Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Lia dikenal luas melalui berbagai program advokasi, termasuk proyek “Evidence-based Policy Advocacy to Remove Stigma of People with Disabilities” di Melbourne, Australia, dan tampil dalam film Dunia Tanpa Suara (2023). Selama sesi pelatihan, komunikasi difasilitasi oleh Eka selaku Juru Bahasa Isyarat, sehingga seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan lebih interaktif.
Dalam pemaparannya, Lia menjelaskan bahwa istilah “Tuli” dengan huruf kapital “T” memiliki makna sosial-budaya yang berbeda dari istilah medis “tunarungu”.
“Istilah Tuli menekankan identitas, kebanggaan, dan budaya. Bukan semata kondisi gangguan pendengaran,” tuturnya. “Bahasa isyarat menjadi instrumen vital bagi teman-teman Tuli untuk berinteraksi dan mengakses informasi. Melalui bahasa isyarat, mereka hadir dan diakui.”
Ia juga memberikan sejumlah tips praktis dalam berkomunikasi dengan teman Tuli. Menurutnya, hal terpenting adalah tidak terburu-buru dalam berinteraksi. Komunikasi dapat dimulai dengan cara sederhana, seperti menulis atau menggunakan ponsel untuk menyampaikan pesan. Selain itu, penting untuk memahami apakah teman Tuli menggunakan bahasa isyarat atau berkomunikasi secara oral. Ia juga menekankan agar tidak memaksakan teman Tuli untuk mengeluarkan suara, melainkan menghormati cara komunikasi yang paling nyaman bagi mereka.
Pelatihan ini membuka wawasan peserta tentang cara berkomunikasi yang tepat dengan teman Tuli. Salah satu peserta, Nathanael dari GKI Sangkrah Solo, mengaku baru menyadari bahwa kebiasaannya membuka mulut lebih lebar saat berbicara—yang semula dianggap dapat membantu teman Tuli memahami ucapan—ternyata keliru. Sementara itu, Prisa dari CD Bethesda, yang sebelumnya pernah belajar bahasa isyarat, mencermati adanya perbedaan bentuk bahasa isyarat di berbagai daerah. Menanggapi hal tersebut, Lia menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki sistem isyarat khasnya. “Bahasa isyarat di Yogyakarta berbeda dengan di daerah lain. Karena itu, penting belajar langsung dari teman Tuli dan mulai dengan alfabet A–Z sebagai dasar,” ujarnya. Lia juga menegaskan bahwa pengajaran bahasa isyarat idealnya diberikan oleh anggota komunitas Tuli sendiri agar lebih autentik dan sesuai dengan praktik sosial mereka.
Suasana pelatihan menjadi semakin hidup saat peserta diajak berlatih langsung menggunakan bahasa isyarat. Mereka belajar alfabet BISINDO (A–Z), angka, waktu, warna, hingga cara memperkenalkan diri. Tawa dan tepuk tangan khas komunitas Tuli—dengan melambaikan tangan di udara—mengisi ruangan ketika peserta berhasil mempraktikkan isyarat dengan benar.
Menurut Stefani, pelatihan ini akan berlanjut pada sesi kedua yang dijadwalkan pada 11 September mendatang, dengan fokus pada implementasi layanan dan komunikasi inklusif di lingkungan UKDW. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, UKDW berharap kesadaran tentang pentingnya bahasa isyarat dan aksesibilitas bagi komunitas Tuli dapat terus berkembang, menjadikan inklusi bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari budaya hidup bersama. [drr]





