
Fakultas Teologi Gelar Seminar Purna Bakti Prof. Dr. J.B. Banawiratma

Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar Seminar Purna Bakti sebagai bentuk penghormatan kepada Prof. Dr. J.B. Banawiratma, dosen senior yang telah memasuki masa purna tugas. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 25 September 2025 di Auditorium Koinonia UKDW, dan dihadiri oleh civitas academica, tokoh gereja, serta rekan-rekan sejawat Prof. Bana.
Seminar ini mengangkat tema dari karya terbaru Prof. Bana berjudul “Spiritualitas Trinitaris Kosmis, Bahasa Pra-dogma dan Kontekstual”. Buku tersebut menjadi fokus diskusi sebagai wujud apresiasi atas kontribusi intelektual Prof. Bana yang terus berlanjut meski telah pensiun dari tugas struktural.
Buku ini mengajak pembaca untuk memaknai iman dan konsep ketuhanan secara lebih luas, kontekstual, dan relevan dengan zaman. Seminar ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi panjang Prof. Bana di dunia teologi, gereja, dan masyarakat.
Pdt. Handi Hadiwitanto, Ph.D., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kaprodi Filsafat Keilahian Program Magister UKDW, menegaskan bahwa masa purna bakti bukanlah akhir dari kiprah seorang akademisi.
“Karya seorang akademisi tidak pernah berhenti. Seminar ini bukan hanya bentuk penghormatan, tapi juga ruang akademis untuk terus menghidupkan warisan pemikiran. Meskipun tugas struktural berakhir, karya intelektual tetap berjalan,” ujarnya.
Seminar ini juga dimaksudkan sebagai awal dari tradisi penghormatan akademik di UKDW bagi para dosen yang memasuki masa purna bakti. Pdt. Handi berharap kegiatan seperti ini menjadi ruang reflektif sekaligus akademis untuk melihat bahwa pemikiran dan kontribusi intelektual tidak berakhir pada masa pensiun administratif.
Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset (WR 1) UKDW, turut menyampaikan penghargaan dan rasa hormat yang mendalam kepada Prof. Bana. “Prof. Bana bukan hanya akademisi, tapi juga guru dan teladan. Seminar ini bukan sekadar mengenang perjalanan akademik, tetapi juga menimba inspirasi dari nilai-nilai keberanian, integritas, berpikir kritis, kesetiaan kepada kebenaran, dan komitmen pada kemanusiaan yang beliau wariskan,” ujarnya.
Dr. Rosa juga menyampaikan harapan bahwa dedikasi dan pemikiran Prof. Bana akan terus menjadi sumber berkat yang hidup dan melahirkan generasi penerus yang cerdas, kritis, serta peduli terhadap sesama.
Pdt. Prof. Joas Adiprasetya dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta menyebut buku Prof. Bana sebagai karya teologis yang padat dan mendalam. “Buku ini menuntun kita untuk memasuki sebuah pengalaman batin dimana benar akhirnya trinitas ini bukan soal bahasa dogma yang rigid proporsional, tetapi sebuah kisah yang ke dalamnya kita harus menghidupinya,” katanya.
Sedangkan Rm. A. Bagus Laksana, S.J., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma, menilai karya ini sebagai sintesis dari pergulatan personal, intelektual, eklesial, dan sosial Prof. Bana, yang ditulis pada momentum penting: masa purna bakti.
Menurutnya, buku ini dapat dipandang sebagai sebuah warisan (legacy) yang perlu dibaca dengan keterlibatan kritis dan konstruktif. “Karya ini meramu spiritualitas yang berakar kuat pada identitas teologis Kristiani, sekaligus menyuguhkan kesegaran kontekstualitas melalui pendekatan multidisiplin, lintas tradisi, serta menggunakan bahasa kultural kosmis dan bahasa ilmu kontemporer,” ungkapnya.
Dari UKDW sendiri, Pdt. Dr. Wahyu Nugroho, M.A., membagikan kesan pribadinya saat membaca buku tersebut. “Pak Bana menulis buku ini dengan komitmen kuat kepada Yesus Kristus dan pemahaman Trinitaris, yaitu kesatuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus.”
Namun, yang paling ditekankan oleh Prof. Bana, menurutnya, adalah dimensi pengalaman (experience). Pak Bana secara sadar memilih menggunakan bahasa Alkitab, karena baginya, bahasa tersebut adalah bahasa yang dialami oleh komunitas awal Kekristenan. Lebih lanjut, Pdt. Wahyu menjelaskan bahwa dimensi pengalaman menjadi inti dari spiritualitas dalam buku ini. Spiritualitas yang ditampilkan bukan hanya bersifat personal, tetapi juga berakar pada pengalaman personal yang hidup dan nyata. [mpk]



