
Satu Hari Tiga Bukit: Batu dan Bata dalam Tradisi Membangun Lokal Jawa Pedalaman
Mahasiswa Mata Kuliah Arsitektur Nusantara di Bukit Imagiri
Mahasiswa Mata Kuliah Arsitektur Nusantara di Bukit Girilaya
Mahasiswa Mata Kuliah Arsitektur Nusantara di Gunung Kelir
Program Studi Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana dalam Mata Kuliah Arsitektur Nusantara menyelenggarakan studi ekskursi pada hari Sabtu, 4 Oktober 2025 untuk belajar bahan dan sejarah lokal, yaitu batu dan bata dengan rute yang cukup panjang. Dalam sehari, eksplorasi dilakukan dengan mendaki tiga bukit, yaitu Bukit Imagiri (Makam Raja-Raja Mataram di Pajimatan, Bantul), Bukit Girilaya (Makam Sunan Cirebon), serta Gunung Kelir (Makam Kangjeng Ratu Malang dan Ki Panjang Mas). Ketiga gunung atau bukit ini memberi tinggalan dalam rupa bahan batu dan bata yang pernah digunakan dalam menanggapi kondisi lingkungan lokal. Batu dan bata telah digunakan sebagai sarana mengabadikan kenangan pada orang-orang yang menentukan jalannya sejarah.
Kegiatan di ketiga situs arkeologis itu sebagai “laboratorium” untuk mempelajari arsitektur batu dan bata yang umumnya digunakan pada daerah yang dekat dengan aliran sungai dan jauh dari gunung berapi. Dalam studi ini batu dan bata yang dipelajari penggunaannya pada gerbang, tangga dan turap (dinding penahan tanah). Tempat-tempat itu mengalami jenis pembebanan yang berbeda sehingga hendak dipelajari bagaimana cara mengatur peletakan batu dan batanya.
Bata adalah bahan bangunan buatan. Ia harus mengalami proses pembuatan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan bangunan. Ia dibentuk dalam ukuran dan kekuatan yang kurang lebih konsisten sehingga kajian mengenai bata mengandaikan telah adanya organisasi produsen bata dan sudah ada keterampilan dalam pemasangannya. Masyarakat pembuatnya juga pasti sudah hidup dalam tatanan yang tertib sehingga bisa dimaklumi bila yang membangun dengan menggunakan bata biasanya adalah institusi negara atau kerajaan.
Pengamatan mengenai batu bata diawali dari Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Pajimatan – Imagiri. Di sini diidentifikasi perbedaan cara menata bata di tangga, turap, dan juga gerbang. Berikutnya, di Girilaya dikenali berbagai susunan batu kapur sebagai pendahulu penggunaan bata pada Kompleks Makam Sunan Cirebon. Di sini didapat fakta bahwa batu kapur itu sudah mulai disiapkan dalam ukuran termodul. Cara menata batu kapur termodul itu belum seperti cara menata bata yang digunakan saat ini. Berbagai ukuran bata ditemukan juga di sana sebagai bahan bangunan susulan untuk memperbaiki kerusakan pada pembangunan sebelumnya.
Obyek terakhir adalah Makam Kangjeng Ratu Malang dan Ki Panjang Mas di Gunung Kelir. Pada kompleks makam di atas bukit ini material yang ditemukan dominan batu kapur. Ini adalah bahan lokal yang mudah ditemukan dan ditata laiknya pemasangan batu andesit di bangunan percandian yang menjadi pendahulunya.
Dengan demikian, dalam studi ekskursi ini batu kapur dan bata yang semula hanya dibicarakan secara teknis saja, kini bisa dipahami secara lebih utuh berkat tinjauan historisnya. Dengan cara memandang yang demikian, maka pengetahuan membangun lokal yang didasarkan pada bahan yang mudah ditemui di tempat itu disadari untuk harus selalu diperbaiki, dimajukan. Tidak cukup hanya dipuja, atau dilanggengkan secara konservatif nostalgis. [MHT – LO]



