
UKDW dan PolyU Lanjutkan Kolaborasi Internasional, Fokus pada Kesehatan Lansia di Sedayu

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menyambut hangat kedatangan rombongan dari The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) dalam acara pembukaan International Service-Learning (ISL) 2025 yang diselenggarakan di Auditorium Koinonia UKDW pada Selasa, 8 Juli 2025. Program ini merupakan bagian dari kerja sama antara UKDW dan PolyU yang telah terjalin selama beberapa tahun, khususnya dalam kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UKDW.
Sebanyak 21 mahasiswa dari School of Nursing, Faculty of Health and Social Sciences PolyU, akan berkolaborasi dengan 30 mahasiswa UKDW dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ISL 2025. Dengan mengusung tema “Local Wisdom-Based Community Empowerment Focusing on Elderly Assistance Program and Utilization of Local Resources”, program ini dilaksanakan pada 9–11 dan 14–15 Juli 2025 di lima dusun di Kelurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, yaitu Dusun Kalijoho, Tapen, Gayam, Jurug, dan Sedayu.
Relevansi Tema dan Kolaborasi Internasional
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UKDW, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., membacakan pesan dari Rektor UKDW yang menekankan pentingnya tema ISL tahun ini. Berdasarkan data demografis, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sedang menuju status aging society, dengan peningkatan signifikan jumlah penduduk lanjut usia. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan dan kesejahteraan lansia menjadi semakin penting dan mendesak.
“Program ISL ini merupakan respons nyata terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan kolaboratif ini, mahasiswa tidak hanya belajar dari pengalaman di lapangan, tetapi juga turut serta dalam memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, khususnya para lansia di wilayah Kapanewon Sedayu,” ujar Dr. Rosa Delima.
Apresiasi Pemerintah Kapanewon Sedayu
Mewakili Panewu Sedayu yang berhalangan hadir karena agenda di tingkat kabupaten, Kepala Jawatan Praja Kapanewon Sedayu, Bapak Saniman, S.H., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran dan kontribusi para mahasiswa. Kehadiran mereka membawa tambahan ilmu, wawasan, serta pengalaman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan memberi dampak positif bagi masyarakat Sedayu, para mahasiswa, dan UKDW,” ungkapnya.
Fokus pada Kesehatan Lansia
Dr. Patrick Kor dari PolyU menjelaskan bahwa program tahun ini merupakan kelanjutan dari kerja sama sebelumnya, namun dengan fokus yang berbeda. “Tahun ini kami memusatkan perhatian pada kesehatan lansia, terutama dalam hal pencegahan dan edukasi terkait demensia, obesitas, dan hipertensi. Kami berharap, pendekatan assessment dan education yang dilakukan dalam program ini tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga memperkaya wawasan dan pengalaman mahasiswa,” paparnya.
Pembekalan Budaya dan Kesehatan Tropis
Sebagai bagian dari acara pembukaan, para mahasiswa internasional menerima pembekalan terkait budaya dan kesehatan. Arida Susyetina, S.S., M.A., membawakan materi “Indonesian Culture and Etiquette: A Practical Guide” yang memberikan pemahaman tentang budaya lokal, tata krama berkomunikasi, serta etika saat berinteraksi dengan masyarakat. Sementara itu, dr. Haryo memberikan “Food Safety and Health Tips” yang berisi panduan menjaga kesehatan di iklim tropis, termasuk risiko penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, infeksi bakteri, dan pentingnya konsumsi makanan serta minuman yang higienis.
Penandatanganan Kerja Sama dan Konsolidasi Proyek
Sebagai bentuk resmi dari kelanjutan kolaborasi ini, dilakukan penandatanganan Implementation Arrangement antara LPPM UKDW dan The Hong Kong Polytechnic University. Acara ini juga ditutup dengan sesi konsolidasi proyek, yang akan menjadi panduan teknis dan strategis selama kegiatan lapangan berlangsung.
Melalui program ini, UKDW dan PolyU berharap dapat membangun kolaborasi berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya para lansia, tetapi juga memperkuat nilai pembelajaran lintas budaya dan empati bagi mahasiswa sebagai agen perubahan global.



