
SETIA #3: Menemukan Iman dalam Aktivitas Budidaya Kopi

SETIA #3 bertajuk ”Mengelus Wajah yang Ilahi Melalui Biji Kopi” digelar di Lecture Hall Pdt. Dr. Rudi Budiman pada hari Selasa, 20 Mei 2025. Kali ini, seminar diisi oleh Pdt. Prof. Dr(h.c) Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D., Pdt. Devina Widiningsih, M.Th. bersama tim peneliti. Adapun materi yang disampaikan berkaitan dengan penelitian mereka yang bersubjek pada para jemaat gereja yang berprofesi sebagai petani kopi. Penelitian yang telah dilakukan ini berfokus untuk mencari tahu motivasi dari jemaat GKJW untuk mengelola budidaya kopi.
Dari hasil sensus yang dilakukan di GKJW, 9800 warga merupakan petani. Namun ironisnya, warga yang berprofesi petani, yang merupakan salah satu penghasil komoditas utama Indonesia justru dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Oleh karena itu, pada tahun 2002 dibentuk tim Pemberdayaan Ekonomi Warga (PEW) yang kemudian pada tahun 2006 berkembang menjadi Pokja PEW. PEW ini dibentuk sebagai usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mewadahinya di suatu organisasi.
Penelitian ini juga melihat aktivitas budidaya kopi yang dilakukan oleh kelompok tani ”Republik Tani Mandiri”. Kelompok tani ini didirikan pada 2017 dengan anggota yang terdiri dari 30 warga masyarakat yang beragama Islam dan Kristen. Dari 30 anggota kelompok tani tersebut, 10 orangnya merupakan warga jemaat GKJW Kucur. Kelompok tani ini diketuai oleh bapak Nur Ali Romadhon yang seorang Muslim.
Kelompok tani yang juga menjadi objek penelitian adalah kelompok tani masyarakat Sumberdem-Bangelan. Di daerah ini, petani kopi merupakan mata pencaharian 80% dari masyarakat setempat. Oleh karena itu, pada tahun 2023 dibentuk suatu kelompok tani yang berada dibawah koordinasi gereja dengan nama ”Berkah Tani Nyawiji”. Kelompok tani ini beranggotakan 28 orang yang kemudian diresmikan oleh pemerintah pada tahun 2024.
Selain itu, ada pula kelompok tani ”Tunas Baru” yang merupakan binaan dari GKJW Purwosari, Jengger yang terletak di daerah lereng gunung Semeru. Dimana 95% mata pencaharian warga berada di bidang perkopian.
Dari pengamatan diatas, penelitian ini memunculkan beberapa analisis yang perlu diperhatikan. Bahwa kopi menjadi simbol identitas dari masyarakat petani kopi. Ada masyarakat yang menganggap kopi sebagai warisan orang tua sehingga harus dijaga, ada pula yang mengganggapnya sebagai berkat dari Tuhan, ada pula yang menganggap kopi sebagai prospek bisnis yang menjanjikan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pandangan gereja terhadap pekerjaan dan kehidupan ekonomi warganya. Terjadi sebuah perubahan paradigma dimana gereja yang awalnya hanya memenuhi kebutuhan rohani dari jemaatnya sekarang menjadi rohani dan jasmani. Hal ini merupakan sebuah perubahan penting yang menunjukkan peran gereja untuk ikut serta mensejahterakan warganya, melalui cara lain di luar pelayanan gerejawi. Selain itu, muncul hubungan kekeluargaan antar warga jemaat yang berprofesi sebagai petani kopi.
Namun ada pula beberapa tantangan yang perlu di hadapi oleh para petani kopi, seperti benturan kepentingan beberapa kelompok tani dengan gereja akibat perbedaan cara pandang. Ada pula permasalahan bakul atau perantara yang masih mendominasi pasar kopi. Dimana petani kopi kondisinya terbatas, dengan keadaan ekonomi yang mendesak dan kemampuan produksi kopi yang terbatas, masih bergantung kepada para bakul ini untuk menjual kopinya.
Dari analisis tersebut muncul intepretasi yang dapat kita ambil, antara lain munculnya iman para petani kopi untuk menjadi lebih baik ketika dievaluasi akan kinerjanya. Dapat dilihat juga solidaritas lintas iman dalam beberapa kelompok tani budidaya kopi. Selain itu, ada pula beberapa petani yang memiliki kesadaran untuk menjaga alam dan lingkungan sekitar.
Harapan selanjutnya dari penelitian ini adalah dapat bekerja sama dengan kekuatan masyarakat seperti pemerintah, untuk menciptakan suatu keputusan terkait pengaturan pasar yang menguntungkan para petani kopi. Selain itu, diharapkan juga ada strategi gereja untuk pemberdayaan dan kemandirian petani kopi. Harapannya para petani kopi ini dapat meningkatkan produksinya hingga dapat menjangkau pasar ekspor. [jonathan]



