
Morning Prayer UKDW Angkat Pesan Palmarum tentang Kepemimpinan Rendah Hati

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar Morning Prayer bertema “Palmarum: Sang Raja yang Rendah Hati” pada Senin, 30 Maret 2026 di Kapel UKDW. Dalam ibadah pagi tersebut, Ignatius Tri Endarto, M.A., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, menyampaikan firman yang diambil dari kitab Zakharia 9:9–10, sebuah nubuatan yang menghadirkan perspektif berbeda tentang sosok raja yang dinantikan umat.
Dalam renungannya, Ignatius Endarto menyoroti situasi yang sedang dihadapi civitas academica UKDW yang akan memasuki masa Ujian Tengah Semester (UTS). Ia menegaskan bahwa perasaan gugup dan waswas merupakan hal yang wajar, namun tidak seharusnya melemahkan semangat. “Memasuki masa UTS, kita sering merasa cemas dan tidak tenang. Namun, ketika kita mengusahakan yang terbaik dan tetap percaya kepada Tuhan, setiap tantangan dapat kita jalani dengan baik,” ungkapnya. Oleh karena itu, ia mengajak jemaat untuk tetap tenang dan yakin dalam menjalani setiap proses akademik.
Selanjutnya, Ignatius Endarto menjelaskan bahwa firman dari kitab Zakharia tidak dapat dilepaskan dari konteks historisnya. Kitab tersebut ditulis sekitar abad ke-6 sebelum kelahiran Yesus, pada masa ketika bangsa Israel belum sepenuhnya merdeka meskipun telah keluar dari pembuangan di Babel. Mereka masih berada di bawah kekuasaan imperium besar seperti Persia dan Yunani. Dalam kondisi tersebut, bangsa Israel menantikan Mesias yang diharapkan mampu membebaskan mereka secara politis.
Namun demikian, nubuatan dalam Zakharia justru menghadirkan gambaran yang berbeda dari ekspektasi tersebut. Sosok raja yang dijanjikan tidak tampil sebagai penakluk yang kuat secara militer, melainkan sebagai raja yang rendah hati. “Nubuatan ini membalikkan cara pandang kita tentang raja. Ia hadir bukan sebagai penakluk, tetapi sebagai pribadi yang adil, membawa keselamatan, dan rendah hati,” jelas Ignatius. Ia menambahkan bahwa keadilan yang dimaksud bukan sekadar kesalehan pribadi, melainkan tindakan nyata dalam memulihkan hak orang tertindas dan menegakkan hukum Tuhan. Sementara itu, kemenangan yang sejati tidak diukur dari kekuasaan duniawi, melainkan dari keselamatan yang berasal dari Allah.
Lebih lanjut, Ignatius Endarto menyoroti makna simbol keledai sebagai tunggangan sang raja. Berbeda dengan kuda perang yang melambangkan kekuatan militer, keledai justru menjadi simbol damai dan kesederhanaan. “Ketika raja itu datang dengan menunggang keledai, ia sedang menunjukkan bahwa ia hadir sebagai pembawa damai, bukan sebagai pemimpin yang mengandalkan kekerasan,” tuturnya. Nubuatan ini, lanjutnya, digenapi dalam pribadi Yesus Kristus yang membawa rekonsiliasi dan damai sejahtera bagi dunia.
Dalam konteks kehidupan kampus, pesan Palmarum ini dinilai sangat relevan bagi seluruh civitas academica UKDW. Ignatius Endarto mengajak setiap individu untuk meneladani kepemimpinan yang melayani, sebagaimana Yesus yang dengan rendah hati membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan, gelar, dan posisi seharusnya menjadi sarana untuk melayani, bukan untuk menunjukkan keunggulan diri. “Apa yang kita miliki di kampus ini hendaknya menjadi alat untuk melayani sesama, bukan menjadi ruang untuk arogansi akademik,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya membangun komunitas yang membawa damai. Hal ini dapat diwujudkan dengan meninggalkan berbagai bentuk kekerasan, baik secara verbal, mental, maupun dalam bentuk manipulasi, serta menggantinya dengan sikap saling menghargai. Dengan demikian, setiap interaksi di ruang kelas maupun dalam organisasi dapat menjadi ruang untuk menghadirkan damai sejahtera.
Sebagai penutup, Ignatius Ignatius Endarto mengajak jemaat untuk menyambut Sang Raja tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap hidup sehari-hari. “Mari kita menyambut Sang Raja bukan hanya dengan seruan ‘Hosana’, tetapi dengan hati yang siap memikul salib dan hidup dalam kerendahan hati,” pungkasnya. Doa pun dinaikkan agar setiap pribadi dimampukan untuk memiliki hati yang melayani, meninggalkan kesombongan, dan menjadi pembawa damai di lingkungan UKDW maupun di tengah masyarakat. [mpk]



