
Gelar Unconference International, ICRS Soroti Polarisasi dan Pengaruhnya
[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_row column_structure=”1_3,1_3,1_3″ _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_column type=”1_3″ _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_image src=”https://ukdw.ac.id/wp-content/uploads/2025/04/IMG_20250424_090551-scaled.jpg” title_text=”IMG_20250424_090551″ show_in_lightbox=”on” _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][/et_pb_image][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_3″ _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_image src=”https://ukdw.ac.id/wp-content/uploads/2025/04/IMG_20250424_092024-scaled.jpg” title_text=”IMG_20250424_092024″ show_in_lightbox=”on” _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][/et_pb_image][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_3″ _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_image src=”https://ukdw.ac.id/wp-content/uploads/2025/04/IMG_20250424_102623-scaled.jpg” title_text=”IMG_20250424_102623″ show_in_lightbox=”on” _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][/et_pb_image][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_text _builder_version=”4.27.4″ _module_preset=”default” hover_enabled=”0″ global_colors_info=”{}” sticky_enabled=”0″]
Dewasa ini, polarisasi menjadi fenomena kompleks yang kian mencuat dan semakin terasa dalam berbagai dimensi kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga keagamaan. Hal ini disampaikan dalam acara unconference internasional bertajuk “Polarization and Its Discontent in the Global South: Mitigation Measures, Strategies, and Policies”.
Kegiatan ini digelar oleh Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) pada tanggal 24 – 25 April 2025, di University Club (UC) Hotel, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. ICRS sendiri merupakan konsorsium yang terdiri dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, serta berbasis pada Prodi Pascasarjana UGM. ICRS berkomitmen untuk mengedepankan dialog kritis antaragama, menyuarakan pesan perdamaian, serta mendorong penelitian kolaboratif lintas budaya, agama, dan negara demi membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan harmonis.
Berbeda dari konferensi akademik konvensional, ICRS menggunakan format unconference yang mengedepankan pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan fleksibel. Sehingga peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, namun dapat berpartisipasi secara aktif, lebih terlibat dalam menentukan arah diskusi, bertukar pengetahuan maupun pengalaman, dan membangun jejaring dengan suasana yang lebih santai.
Kegiatan ini diisi dengan beberapa sesi talk show, pemutaran dokumenter, dan beberapa sesi diskusi. Ada 4 hal yang menjadi topik pembahasan yaitu Polarisasi, Gender dan Keadilan Sosial, Agama dan Polarisasi Politik, Polarisasi dan Keadilan Lingkungan, serta Inklusi Digital dan Komunitas Adat.
Dalam sambutannya, Dr. Zainal Abidin Bagir selaku Direktur ICRS berharap dengan bentuk kegiatan unconference ini peserta dapat lebih mengeksplorasi hal-hal terkait polarisasi dengan suasana yang lebih santai. Kemudian kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D. (Dean of UGM Graduate School) yang berharap peserta dapat bertukar pengetahuan lewat kegiatan ini.
Adapun sesi pertama diisi dengan talk show yang membahas tentang polarisasi dan pengaruhnya pada bumi bagian selatan. Talk show ini dipandu oleh Dicky Sofjan dengan narasumber dari berbagai negara yaitu Daniel Medina dari Institute for Integrated Transitions (IFIT) Colombia, Ana Carolina Evagelista dari Institute of Studies on Religion (ISER) Brazil, Nicholas Adams dari University of Birmingham Inggris, dan Nurhuda Ramli dari IMAN Research Malaysia. Masing-masing pembicara memberikan pendapatnya mengenai apa sebenarnya polarisasi dan bagaimana memahami konsepnya.
Sesi pertama banyak membahas tentang konsep dasar mengenai polarisasi, penyebab, asal, serta dampaknya pada lingkungan dan masyarakat. Daniel dari IFIT, mengatakan bahwa polarisasi adalah sebuah masalah yang menyebabkan masalah lain semakin sulit diatasi. Akan sulit untuk menyelesaikan suatu permasalah ketika sebuah masyarakat terbagi menjadi dua atau lebih kelompok yang berlawanan.
Ana dari ISER menambahkan bahwa polarisasi merupakan radikalisasi dari perbedaan yang sudah ada. Para peserta pun diajak untuk berpikir oleh Nicholas dari Birmingham University dengan pertanyaan, apakah polarisasi merupakan sesuatu yang sudah ada atau sesuatu yang diciptakan seseorang? Perlu dipertanyakan pula apakah keberadaan polarisasi tersebut menguntungkan untuk suatu pihak atau tidak? Lalu Nurhuda dari IMAN Research mengatakan bahwa latar belakang terbentuknya suatu negara juga mempengaruhi keberadaan polarisasi pada suatu negara.
“Polarisasi merupakan hal yang tidak terhindarkan pada masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, perlu kita lihat polarisasi bukan hanya sebagai masalah namun bagaimana kita dapat menggunakan hal tersebut sebagai sebuah alat. Kita tahu bahwa polarisasi dapat dikendalikan oleh para pemegang kekuasaan dan kekuatan sehingga perlu adanya integritas dan kebijaksanaan pada para pemangku kepentingan tersebut sehingga polarisasi dapat dikendalikan sesuai dengan tujuan bersama,” ucap Bu Jeni, salah satu peserta kegiatan unconference yang diadakan ICRS. [jonathan]
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]



