
Desain sebagai Strategi: Kontribusi UKDW bagi Industri Perak Kotagede
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mendorong penguatan nilai tambah perak Kotagede melalui Pelatihan Desain Produk Perak yang digelar di Aula Kemantren Kotagede Lantai 2, Kota Yogyakarta, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini diikuti 17 perajin dan pelaku usaha perhiasan perak, serta dibuka oleh Isniyarti Wuri Putranti, S.I.P., M.P.A., Kepala Jawatan Kemakmuran Kemantren Kotagede.
Pelatihan menghadirkan Dan Daniel Pandapotan, S.Ds., M.Ds., dosen Program Studi Desain Produk Fakultas Arsitektur dan Desain sekaligus Pjs Kepala Center of Immersive Technology and Creative Innovation (CITACI) UKDW, sebagai instruktur utama.
Dalam pemaparannya, Daniel menekankan bahwa desain tidak lagi dapat dipahami sebatas tampilan visual produk, melainkan sebagai strategi penguatan daya saing. “Desain tidak boleh lagi dipahami hanya sebagai bentuk produk. Desain adalah strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tren perhiasan perak mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir. Produksi massal dengan ornamen berat mulai berganti ke desain yang lebih sederhana, personal, dan berbasis pesanan (custom). “Kalau kita hanya mengulang motif lama tanpa reinterpretasi, kita akan bersaing di harga. Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah diferensiasi melalui konsep,” jelasnya.
Sebagai bagian dari pendekatan kontekstual, Daniel mengajak peserta menggali potensi lokalitas Kotagede sebagai sumber inspirasi. Salah satu contoh yang diangkat adalah reinterpretasi ornamen gerbang Lawang Pethuk dengan komposisi lingkaran dan garis geometris. “Anting ini dirancang tidak hanya menampilkan motif tradisional, tetapi mengolah inspirasi arsitektur lokal menjadi bentuk yang ergonomis,” katanya sambil menunjukkan sketsa pengembangan desain.
Pelatihan dirancang secara aplikatif. Peserta melakukan eksplorasi desain menggunakan clay plastisin sebagai media ideasi. Material tersebut dipilih karena mudah dibentuk, ekonomis, dan memungkinkan revisi cepat sebelum masuk tahap produksi logam. “Kita tidak langsung bekerja di perak. Kita uji dulu gagasan dalam bentuk model. Kalau salah, bisa diperbaiki. Ini mengurangi risiko kerugian produksi,” terang Daniel.
Proses perancangan dilakukan melalui tiga tahap iteratif: penyusunan desain awal, pembentukan volume tiga dimensi menggunakan cetakan sederhana, serta pengembangan ulang bentuk dengan referensi arsitektur Kotagede.
Salah satu peserta mengaku memperoleh perspektif baru melalui metode tersebut. “Saya baru sadar, ternyata ide bisa diuji dulu pakai plastisin. Tidak harus langsung ke logam. Ini lebih hemat,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan muncul pada tahap produksi. Peserta menyampaikan kebutuhan akses fasilitas cor aluminium untuk uji coba desain baru. “Kalau ada akses ke pihak yang punya alat cor, kami bisa mencoba desain baru,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Daniel menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan inovasi. “Perajin punya keterampilan, kampus punya pendekatan desain dan teknologi, pemerintah punya fasilitas. Jika tiga ini bertemu, inovasi bisa berjalan konsisten,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, model plastisin hasil karya peserta akan didigitalisasi oleh mahasiswa Desain Produk UKDW menggunakan perangkat lunak tiga dimensi dan dikembangkan menjadi file siap cetak untuk pembuatan cetakan produksi.
Melalui pelatihan ini, UKDW menunjukkan komitmennya dalam mendampingi perajin lokal agar mampu mengolah identitas Kotagede menjadi desain yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan pasar. Desain tidak sekadar bentuk, tetapi strategi keberlanjutan bagi industri perak. [FAD]




