
Dampak Penggunaan Tools AI pada Aspek Kognitif Penggunanya
Penggunaan Tools AI
Tools AI sudah sangat masif berkembang dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Tools AI yang tersedia terdiri dari beberapa kategori, seperti: tool AI untuk generator teks, gambar, suara atau video secara umum (sering disebut generative AI), AI untuk membantu penelitian, AI untuk membantu bisnis, AI untuk membantu otomasi proses, AI untuk membantu membuat kode program, dan lain lain. Bagi banyak orang, tools generative AI lebih banyak dikenal, seperti misalnya ChatGPT yang dibuat oleh OpenAI, Google Gemini yang terintegrasi pada semua aplikasi Google, dan Microsoft Copilot yang tersedia pada platform Microsoft. Semua tools AI yang disebutkan tadi banyak diminati. Menurut World Bank Policy Research Working Paper, pada tahun 2024, ChatGPT memperoleh 2,34 miliar visitor.
Apa yang diharapkan dari penggunaan tools AI? Masyarakat tentu awalnya merasa kagum dan tertarik karena kemampuan tools AI yang terlihat pintar dan mampu mengerjakan banyak tugas yang bermacam-macam. Berdasarkan survey Kumparan pada ”Indonesia AI Report”, 81% Gen Z menggunakan tools AI untuk mencari informasi dan jawaban, sedangkan milenial, 79% untuk mencari informasi dan jawaban. Dilihat dari data itu pengguna menggunakan AI untuk menggantikan mesin pencari yang sebelumnya menguasai pasar. Bahkan dulu ada istilah ”googling”, yang mungkin lama- kelamaan sudah tidak relevan lagi.
Dampak Penggunaan Tools AI
Apa pengaruhnya? Jika dilihat bahwa para pengguna sudah menggunakan AI untuk selalu bertanya suatu pertanyaan atau masalah, hal ini berarti pengguna sudah percaya kepada jawaban tools AI. Mereka menganggap bahwa AI bisa dipercaya dan memiliki jawaban yang benar. Hal ini tentu tidak demikian, karena tool AI tentu memiliki keterbatasan, bahkan secara teori dan praktiknya, tool AI banyak menghasilkan ”halusinasi”. Halusinasi AI adalah suatu jawaban yang dihasilkan AI yang salah (tidak tepat) karena AI hanya menghasilkan teks dari data lama yang sudah dipelajarinya. Contoh halusinasi AI adalah prediksi salah: model AI dapat memprediksi bahwa suatu peristiwa akan terjadi yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Misalnya, model AI yang digunakan untuk memprediksi cuaca yang salah. Ada juga hasil positif palsu: ketika menggunakan model AI, model AI mungkin mengidentifikasi sesuatu sebagai ancaman, padahal sebenarnya tidak. Terakhir, negatif palsu: model AI dapat gagal mengidentifikasi sesuatu sebagai ancaman saat hal tersebut memanglah ancaman. Contoh yang sering terjadi adalah saat AI diminta untuk menghasilkan teks pada penelitian yang menyebutkan sumber referensi, tapi sumber referensinya tidak ada.
Apakah menggunakan tools AI sebagai alat bantu ada dampaknya? Jelas ada, dampak positif penggunaan tools AI adalah pekerjaan manusia menjadi terbantu, pekerjaan yang dulunya membutuhkan waktu yang lama sekarang menjadi lebih cepat, pekerjaan menjadi cepat selesai dan hasilnya juga baik. Namun terlalu sering menggunakan AI dapat menyebabkan kemampuan kognitif penggunanya menurun. Kemampuan kognitif adalah kemampuan aktivitas mental yang melibatkan proses berpikir, belajar, memahami, mengingat, menggunakan bahasa dan memecahkan suatu masalah tertentu secara kritis. Sebenarnya tools AI tidak salah, setiap tool lahir untuk mempermudah manusia dalam bekerja. Contohnya saat kalkulator lahir, manusia dipermudah dalam menghitung angka dalam jumlah besar dan kompleks, namun di sisi lain karena sudah ada kalkulator, kemampuan manusia dalam menghitung jumlah besar jadi menurun. Contoh lain, dengan lahirnya smartphone yang memiliki berbagai kemampuan, salah satunya penyimpanan informasi, membuat manusia menjadi cenderung tidak bersedia menghafal. Dulu sebelum ada smartphone manusia ingat nomor telp rumah, namun sekarang tidak ingat lagi.
Kemampuan kognitif pengguna menjadi lebih menurun, karena ada tool AI yang dapat membantu dalam proses berpikir, belajar, memahami, mengingat, menggunakan bahasa, dan bahkan memecahkan masalah. Terjadi proses memindahkan atau membebaskan kapasitas kognitif pengguna untuk tugas yang lebih kompleks ke tools AI. Peristiwa ini disebut sebagai cognitive offloading. Seperti kalkulator tadi yang membebaskan kita dari perhitungan manual yang rumit, tool AI membebaskan kita dari pengolahan informasi dan tugas-tugas kompleks lainnya.
Lalu apa pengaruhnya? tentu saja untuk jangka waktu yang lama akan cukup berbahaya. Manusia menjadi enggan berpikir, bahkan tidak berpikir, karena semua tugas sudah bisa dikerjakan oleh AI. Padahal, kreativitas dan pemahaman mendalam sangat bergantung pada kemampuan menghubungkan informasi yang tersimpan dalam memori. Dampak lain, kemampuan berpikir kritis menurun, kreativitas melemah, risiko ketergantungan, kemampuan bahasa dan mengingat menurun.
Lalu apakah kita harus berhenti menggunakan AI? Tentu saja tidak, namun saat menggunakan tool AI, pengguna harus tetap berpikir kritis, melihat hasil AI dan tidak langsung mempercayainya, tetap perlu memodifikasi hasilnya agar tetap mendapat sentuhan manusia. Memang AI menguntungkan, namun ada risiko bahwa proses berpikir serius (deep thinking) memerlukan waktu dan konsentrasi berkelanjutan. Jika pengguna terbiasa dengan jawaban instan, toleransi terhadap ambiguitas dan berpikir dalam jangka panjang dapat menurun. Kita harus menempatkan AI sebagai asisten atau alat bantu dan bukan pengganti manusia dalam menyelesaikan tugas.
Rekomendasi Penggunaan AI
Kita tidak perlu melarang penggunaan AI, sebab teknologi AI pasti akan masuk dalam kehidupan kita, namun pendekatan yang lebih realistis adalah mengajarkan literasi AI: bagaimana memahami keterbatasannya, memverifikasi output, dan menggunakan AI sebagai alat eksplorasi, bukan sebagai pengganti pemahaman. Pendekatan penggunaan AI perlu dilakukan secara seimbang, misalnya dengan: selalu melatih metakognisi (kesadaran atas proses berpikir sendiri), menjaga latihan kognitif tanpa bantuan AI, seperti menulis manual atau berhitung dasar, menggunakan AI sebagai alat diskusi dan evaluasi, bukan pengganti untuk menyelesaikan tugas, dan mengembangkan kebijakan yang mendorong transparansi dan akuntabilitas sistem AI. Oleh karena itu, marilah menggunakan tool AI secara simbang dan bijaksana!
Penulis:
Prof. Dr. Antonius Rachmat C., S.Kom., M.Cs.
Dosen Prodi Informatika
Fakultas Teknologi Informasi
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta
