
Mahasiswa UKDW Raih Top 5 Dunia Lewat Inovasi Prostetik untuk Anak Penyandang Disabilitas
Keterbatasan akses terhadap prostetik yang nyaman dan terjangkau masih menjadi tantangan bagi banyak anak penyandang disabilitas tangan. Selain harganya yang relatif mahal, prostetik anak perlu diganti secara berkala mengikuti pertumbuhan tubuh. Kondisi tersebut membuat sebagian keluarga kesulitan menyediakan alat bantu yang sesuai kebutuhan dalam jangka panjang.
Berangkat dari persoalan itulah, lima mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengembangkan Buddy V.1, inovasi prostetik adaptif berbasis teknologi 3D yang berhasil mengantarkan mereka meraih posisi lima besar dunia dalam ajang Global Student Innovation Challenge (GSIC).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim Buddy Builders yang beranggotakan Michelle Aurelia Nathanael, Kezia Angelina Hermawan, Rhenald Tanujaya, Kimberly Benedicta Christabel dari Program Studi Desain Produk, serta Gracia Jessica dari Program Studi Manajemen. Sebelum melaju ke tingkat internasional, tim ini terlebih dahulu meraih Juara 1 National Student Innovation Challenge (NSIC) yang diselenggarakan oleh Product Development & Management Association Indonesia (PDMAI), kompetisi yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif berbasis sustainability dan circular economy.
Keberhasilan tersebut membuka jalan bagi Buddy Builders untuk mewakili Indonesia pada GSIC. Dalam kompetisi internasional tersebut, mereka bersaing dengan 44 tim dari berbagai negara dan berhasil menembus peringkat lima besar dunia. Pada pemeringkatan akhir, posisi pertama diraih oleh TU Berlin (Jerman), disusul Institut Teknologi Bandung (Indonesia), Nanyang Technological University (Singapura), dan Clemson University (Amerika Serikat). Capaian ini menempatkan UKDW sejajar dengan sejumlah perguruan tinggi ternama dunia dalam ajang inovasi mahasiswa tingkat internasional.
Menurut Michelle, Buddy V.1 lahir dari keinginan tim untuk menghadirkan solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan pengguna. “Banyak prostetik yang harganya cukup tinggi, kurang menarik bagi anak-anak, dan harus diganti berulang kali seiring pertumbuhan tubuh. Kondisi ini membuat penggunaan prostetik menjadi kurang berkelanjutan bagi sebagian keluarga,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Buddy Builders memanfaatkan teknologi 3D Scan dan 3D Print dalam proses perancangan dan produksi. Teknologi ini memungkinkan prostetik dibuat lebih personal, sesuai ukuran dan kebutuhan masing-masing anak.
Keunggulan utama Buddy V.1 terletak pada sistem adaptive reprint yang memungkinkan prostetik dicetak ulang mengikuti perkembangan ukuran tubuh pengguna tanpa harus memulai proses produksi dari awal. Pendekatan ini membantu menekan biaya, mempercepat proses penyesuaian, serta membuat penggunaan prostetik menjadi lebih berkelanjutan.
Tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu aktivitas sehari-hari, Buddy V.1 juga mengusung prinsip sustainability dan circular economy. Pemanfaatan teknologi manufaktur digital membuat proses produksi lebih efisien dan mengurangi kebutuhan pembuatan perangkat baru secara menyeluruh setiap kali pengguna membutuhkan penyesuaian ukuran.
Keberhasilan di tingkat internasional tidak diraih secara instan. Setelah menjadi juara nasional, tim Buddy Builders mengikuti berbagai workshop, sesi mentoring, dan pendampingan intensif untuk menyempurnakan konsep inovasi mereka sebelum berkompetisi di tingkat global.
Bagi Michelle dan timnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam menghasilkan solusi yang berdampak bagi masyarakat.
“Kompetisi ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Kami belajar melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan menggabungkan keahlian yang berbeda untuk menghasilkan solusi yang lebih tepat sasaran. Kolaborasi menjadi kekuatan utama kami selama proses pengembangan inovasi,” katanya.
Ia juga mengapresiasi peran dosen pendamping yang terus memberikan masukan kritis sehingga inovasi yang dikembangkan semakin matang dan relevan dengan kebutuhan pengguna.
Ketua Program Studi Desain Produk UKDW, Winta Tridhatu Satwikasanti, S.Ds., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa kolaborasi multidisiplin dan dukungan mitra sangat berperan besar. “Tim dengan sangat tekun menggali permasalah dari siswa-siswa, guru, orang tua SLB N 1 Yogyakarta dan belajar langsung dari pakar yaitu tim prostetik dan ortotik Pusat Rehabilitasi Yakkum sehingga tim ini mendapatkan apresiasi tinggi pada penerapan metodologi desain inklusif dan design thinking. Mereka berhasil mendapatkan masalah yang faktual untuk pemberian solusi yang relevan dengan pasar Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Keberhasilan ini juga didukung dengan ekosistem penelitian di Prodi Desain Produk, khususnya yaitu Lab. Tematik Ergonomi dan Desain Inklusif serta Lab. Perancangan Produk dan Rekayasa Material,” terangnya.
Lebih dari sekadar prestasi kompetisi, pencapaian Buddy Builders menunjukkan bahwa inovasi dapat menjadi jembatan antara teknologi dan kemanusiaan. Melalui Buddy V.1, mahasiswa UKDW tidak hanya menghadirkan solusi bagi anak-anak penyandang disabilitas tangan, tetapi juga membuka harapan akan akses prostetik yang lebih terjangkau, adaptif, dan berkelanjutan.
Ke depan, tim Buddy Builders berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak pengguna. Dengan demikian, semakin banyak anak penyandang disabilitas yang memperoleh alat bantu untuk mendukung aktivitas sehari-hari, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu mereka menjalani kehidupan secara lebih mandiri. [mpk]




