
UKDW Jadi Tuan Rumah Pertemuan Nasional BK2-PTKI, Chaplaincy Forum, dan Student Camp 2025

Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, Kebaktian Pembukaan Pertemuan Nasional Badan Koordinasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Kristen Indonesia (BK2-PTKI), Chaplaincy Forum, dan Student Camp 2025 diselenggarakan pada Kamis, 3 Juli 2025.
Bertempat di Auditorium Koinonia, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), acara ini mengusung tema “Pendidikan yang Holistik: Membentuk Individu yang Utuh dalam Kristus”. Tema tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga spiritual, emosional, dan moral yang berakar dalam nilai-nilai Kristiani.
Adapun renungan dibawakan oleh Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D., yang menyampaikan keprihatinannya terhadap kecenderungan dunia pendidikan tinggi masa kini. Ia menyoroti bahwa universitas kini kerap dipandang sebagai tempat memperoleh ijazah semata, bukan sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya.
“Seringkali kita menganggap mahasiswa sebagai barang dagangan. Hal ini tentu sangat memprihatinkan dalam konteks kehidupan kita saat ini. Nilai-nilai untuk membentuk dan merangkul manusia seutuhnya seolah hilang di tengah kekhawatiran dan pengaruh ideologi zaman,” ujarnya.
Pdt. Wahju menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal mengisi kepala dengan ilmu pengetahuan, melainkan menyalakan api semangat untuk terus berkarya dengan berpusat pada Kristus. “Pendidikan Kristen harus harus bersifat holistik, mengakar dalam Kristus, memadukan hikmat dan karakter, serta bertujuan membawa mahasiswa pada kedewasaan. Sehingga harus dijalankan dengan kerja keras karena menjadi bagian dari berkat Tuhan kepada kita,” tambahnya.
Seusai ibadah, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatingngsih, S.T., M.T., yang menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada UKDW sebagai tuan rumah kegiatan nasional ini.
“Terima kasih kepada BK2-PTKI dan Chaplaincy Forum atas kepercayaan yang diberikan. Ini adalah kesempatan berharga untuk memperkenalkan kampus, staf, dan fasilitas kami. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjadikan kegiatan ini sebagai ajang berbagi pengalaman serta mencari solusi bersama atas isu-isu aktual di lingkungan perguruan tinggi Kristen, seperti penerimaan mahasiswa baru dan kesehatan mental.
“Ini adalah tantangan besar bagi Perguruan Tinggi Kristen. Bagaimana menjadikan pendekatan whole person education (WPE) sebagai ciri khas lulusan kita. Mari kita manfaatkan forum ini sebagai ruang kolaborasi agar hasil diskusi dapat diterapkan di kampus masing-masing,” katanya.
Selanjutnya, Ketua BK2-PTKI, Dr. Rudi Setiawan, S.T., M.T. turut menyampaikan apresiasi kepada UKDW atas kesediaannya menjadi tuan rumah dan sambutan hangat yang diberikan kepada seluruh peserta. “Kami berterima kasih kepada para peserta yang hadir, meskipun masing-masing sedang berada dalam pergumulannya sendiri. Oleh karena itu, gunakan kesempatan ini untuk saling berbagi, belajar, dan berdiskusi, sekaligus menjajaki bentuk-bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan bersama sehingga membawa dampak yang positif,” ungkapnya.
Dr. Rudi juga menjelaskan bahwa tahun ini, kegiatan Pernas BK2-PTKI diselenggarakan secara paralel dan saling beririsan dengan Chaplaincy Forum serta Student Camp, sebagai bentuk strategi lintas sektor yang menciptakan sinergi antara pimpinan kemahasiswaan, pembina kerohanian, dan mahasiswa. Adapun Pernas BK2-PTKI dan Chaplaincy Forum berlangsung tanggal 3-4 Juli 2025, sedangkan Student Camp telah dimulai sejak 1 Juli dan berakhir pada 4 Juli 2025.
Ketua Chaplaincy Forum, Yanny Yesky Mokorowu, S.Th., M.Hum., menekankan urgensi pelayanan rohani di lingkungan pendidikan tinggi Kristen sebagai respons terhadap dinamika dunia modern yang semakin kompleks. Dalam sambutannya, Yanny menyampaikan bahwa peran chaplain tidak hanya bersifat religius, tetapi juga menyentuh aspek pendampingan jiwa dan karakter mahasiswa.
“Dunia kini bergerak cepat, kompleks, dan seringkali menekan jiwa. Lewat pertemuan ini, kita diajak untuk melihat tantangan yang dihadapi, terutama terkait kehidupan mahasiswa. Dalam mendidik manusia secara holistik, kita tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi. Tidak hanya membentuk akal, tetapi juga membimbing hati dan menumbuhkan karakter,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya keberadaan chaplaincy di kampus sebagai penggerak spiritualitas, penjaga kesejahteraan batin, serta jembatan antara iman dan realitas kehidupan mahasiswa.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bertajuk “Foundation and Realities: Whole Person Education and Mental Health on Christian Campuses Today”. Materi ini mengangkat pendekatan WPE—sebuah konsep pendidikan yang menekankan pengembangan mahasiswa secara utuh, mencakup aspek spiritual, emosional, dan sosial.
Sesi ini secara khusus mengulik implementasi nyata dari pendekatan WPE serta strategi penanganan kesehatan mental di masing-masing kampus. Isu kesehatan mental dipandang sangat krusial, mengingat dampaknya yang besar terhadap kemampuan mahasiswa dalam belajar, berinteraksi, dan bertumbuh secara sehat dan seimbang.
Hadir sebagai panelis dalam sesi ini adalah Pdt. Nani Minarni, S.Si., M.Hum. (CM UKDW), Pdt. Dr. Ferry Nahusona (CM UKSW), dan Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, M.Th. (Pendeta Emeritus GKI Sinode Wilayah Jawa Barat).
Melalui diskusi yang berlangsung hangat dan reflektif, para panelis berbagi pengalaman nyata dan tantangan dalam mendampingi mahasiswa di tengah kompleksitas dunia kampus masa kini. Harapannya, pendekatan pendidikan yang menyentuh seluruh dimensi manusia ini dapat semakin mengakar dalam sistem pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi Kristen.



